berakhir di umur 18 tahun

hari ini seperti hari biasanya, kicau burung berbunyi mataharipun dengan semangat datang untuk memberi kehangatan pada bumi ini.

tanpa ada firasat apapun atau pertanda apapun . sebenarnya pertanda itu sudah datang tapi sayangnya tidak diperdulikan oleh kami.

hal itu pun terjadi tanpa ada yang bisa mencegah

“papa mau kemana?’ kata aku

” mau ke puskesmas mau cek darah” kata papa

” yaudah, ajeng anterin ya”

papa pun setuju, aku pun mengantarnya ke puskesmas terdekat dari rumahaku. aku menggelayuti lengannya dan menjaganya agar tidak jatuh. papa sudah ngeluh dengan penyakitnya katanya dia sering mual.

saat dokter puskesmas me ngechek keadaan papa. dokter itu menyarankan kalo papa harus ke rumah sakit untuk pengechekan lebih lanjut. tapi berhubung saat itu kami lagi tidak mempunyai uang dan papa pun tidak memasalahkan penyakitnya initapi lambat laun papa selalu ngeluh dan bilang ga kuat. kami keluarga tidak terlalu respec dengan papa karena papa itu selalu lebay hahaha..

figur ayah yang sangat hebat dan humoris, ga akan tergantikan oleh siapapun . ketawanya, senyumnya, kelebayannya . . .

saat dibawa ke rumah sakit untuk pengechekan darah dan gulanya dan setelah pulang dari rumah sakit papa ga pernah mau ngomong lagi mulutnya ga mau dibuka beliau hanya diam kayak mayat hidup.

malamnya tanggal 7 desember 2010 jam set.8 malama papa dibawa ke rumah sakit marzuki mahdi di wilayah dokter dan masuk ruang UGD papa meronta ronta ga mau di masukin infus, aku berusaha untuk merayunya

 

dari pagi masalahnya papa ga makan dan kami sangat khawatir

 

malamnya jam 12 malam papa koma dan tanggal 8 pagi jam set.10 pagi papa masuk ruang ICU dan malam jam 21.55 tanggal 9 desember papa harus pergi meninggalkan kami

 

 

 

 

 

meninggalkan aku di saat aku masih sangat membutuhkan figur seorang papa, dimana saat itu aku juga harus tetap menjalankan UTS ku. dimana aku membutuhkan papa untuk datang di wisudaku 3 tahun yang akan datang, dimana aku masih membutuhkan papa untuk jadi waliku saat aku menikah nanti. dimana papa sempat mengeluarkan air matanya untuk mendukung aku menempuh ujian UTS diaman aku meminta doa’nya saat itu

 

 

dan entah mengapa setiap tanggal 9. hati ini terlalu sakit untuk mengingat detik-detik papa meninggalkana aku,mas,mba dan mama.

 

 

aku akan tetap harus menjalankan semua impian aku untuk buat papa bangga, mama dan kakakku mereka nafasku dan hidupku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s